Senyuman Tegas Penuh Kepalsuan

Semua yang ada didirimu bagaikan milik seorang malaikat. 
Memandang gayamu, tatanan rambutmu, sennyumanmu.
Rasanya seperti berada di langit ketujuh.

Lambat laun dibalik gaya seorang malaikat itu tergambar jelas.
Semuanya penuh dengan kepalsuan belaka.
Tidak ada yang jujur dalam gaya hidupmu.
Senyumanmu pun yang harusnya indah dan tegas tidak lagi seperti itu.

Sekarang semuanya tegas dengan penuh kepalsuan.
Apa sebenarnya yang terjadi padamu? Kamu ada dalam bentuk wujud. 
Tapi dalam bentuk arwah rasanya kamu telah lama mati.
Semua perkataan yang keluar dari mulutmu hanyalah omong kosong sampah.

Awalnya engkau buat kebohongan kecil untuk menutupi kesalahan fatal yang kau buat, lalu seiring berjalannya waktu kebohongan kecil itu akhirnya membesar untuk menutupi kebohongan-kebohongan lainnya. 

Kejujuranmu bagaikan berlian terindah yang tidak akan pernah lagi terlihat  hingga nafas ini berhenti.
Jujur saya tidak tahu dengan siapa sebenarnya saya hidup, saya tidak mengenalmu sekarang.

Kamu bukanlah orang yang dulu.
Kamu bukanlah kamu. 
Kamu hanyalah replica seseorang yang saya kenal dahulu

Hidupmu palsu.

Bagimu orang-orang disekitarmu memuja kamu dengan indah dan tegas. 
Berkat gaya hidupmu yang terlalu mewah.

Bagimu teman-temanmu itu lebih dari sekedar keluarga.
Bagimu keluarga itu tidak ada kegunaannya sama sekali. 
Bagimu saat terindahmu itu ketika semuanya mewah dan gemerlap.

Kamu mengatakan hidup mewah itu adalah takdirmu.
Dan takdir itu tak bisa di pungkiri.
Dari segi mananyakah kamu bilang ini semua takdirmu. ?

Sekarang takdir mewah yang kamu miliki berubah 360 derajat.
Hasilnya hutang yang membukit dimana-mana. 
Kamu mengatakan “SAYA BISA MENGATASI SEMUANYA”. 

Tapi mana buktinya yang ada semuanya malah semakin bertambah dan menyiksa batin orang yang hidup bersamamu.
Bahkan hanya sekedar senyuman mewah yang biasa tersungging dibibirmu itu berubah menjadi senyuman kepalsuan belaka.
Tuhan pun tidak dapat menolongmu karena  kau tak mempercayainya.

Kemana teman-teman mewahmu itu?
Kemana teman-teman yang lebih dari sekedar keluarga yang engkau miliki? 
Kemanaa mereka semua ?
Hah?

Mereka bukanlah teman, mereka itulah yang dikatakan sampah masyarakat yang menjerumuskan orang-orang naïf sepertimu. 
Pengalaman adalah guru terbaik.
Seburuk apapun pengalamanmu itu saya yakin kamu akan bangkit untuk melanjutkan kehidupan mewah yang kamu miliki.

Saya sangat mengagumimu. 
Hidup bersamamu adalah hal terbaik.
Tetapi semua kemewahan itu sudah cukup tinggalkanlah semua itu.

Tidak ada orang yang dapat bertahan hidup denganmu.
Hanya tuhan yang tahu batas kesabaran seseorang.
Dan hanya kamu yang dapat menghentikan semuanya.

Komentar

Postingan Populer