Pendusta Surga

Bertahun-tahun yang lalu....


Saat itu bulan agustus, atau september mungkin oktober entahlah tak ada lagi yang mengingatnya.


Satu yang akan selalu teringat saat itu malam minggu, katanya malam yang panjang saat kita menikmatinya. 


Kau datang dengan gaya angkuhmu, kupikir kau kembali dan bukan hanya sekedar kunjunganmu. Hati ini bahagia menyambutmu dengan perasaan kekanakan layaknya.


Samar kuingat kau hanya berjalan menuju kamar melalui tangga lapuk dibelakang tempat tinggal kita. 


Aku menyusulmu berlari naik seolah takut kau akan mengambil seluruh barangmu dan pergi. Ternyata kau hanya duduk didepan cermin besar milikmu.


Kulihat kau merapikan peralatan make-up yang berserakan dan aku hanya diam memandangi. Kau mengambil sebatang rokok mint yang sedari tadi kau bawa didalam kantung plastik lusuh.


Sepertinya samar teringat saat itu kita sedikit bertukar cerita tentang hari-hari yang telah masing-masing kita lewati, atau hanya mulut ini yang terus mencecarmu dengan pertanyaan polos yang membuatmu tak nyaman. Entahlah ku telah melupakannya.


Sepertinya kau juga menanyakan kabar warung makan sumber penghasilan utama keluarga yang sedang goyah, tak ada keuntungan semua habis terpakai bahkan kadang tak cukup untuk sekedar mengisi perut.


Yang terekam jelas di memori masa itu adalah kau melontarkan pertanyaan basa-basi, apakah kalian sudah makan dan dengan polos kujawab 'belum'.


Bahkan sempat ku berkata ingin membeli sesuatu, lalu kau memberikan selembar rupiah berwarna biru untuk membeli makanan.


Tanpa beban aku mengambilnya, kuingat saat itu berkeliling minimarket dengan uang pemberianmu ditangan.


Aku kembali ke tempat tinggal kita setelah berbelanja, meletakkan barang bawaan di meja dapur lalu naik mencarimu. Kau masih ada ditempat semula masih menikmati rokok mint milikmu.


Kau telah berdandan dengan sangat menawan seperti biasanya. Dan begitu saja kau pergi.


Seandainya saat itu ku tahu kau tak akan pernah pulang mungkin aku akan menahanmu atau tidak sama sekali.


Kau bilang hanya pergi untuk beberapa hari tinggal bersama saudaramu karena kau memiliki urusan yang begitu pentingnya dan aku percaya. 


Kata orang surga berada di bawah kaki orang yang melahirkanmu.


Bagaimana kalau orang yang melahirkanmu itu sering berdusta dan membohongimu?


Masihkah surga berada di telapak kaki-nya?

Komentar

Postingan Populer