Hembusan Nafas Terakhir
Bagaimana cara melupakan ingatan yang menyakitkan?
Ingatan itu tertanam jauh di dalam hati walaupun sudah setahun lebih, ternyata masih sangat menyesakkan.
Rasanya sangat putus asa mengingat orang-orang yang memandang kami di kamar rumah sakit itu, saat almarhumah terus buang air besar disertai bau amis darah. Rasanya sangat menyedihkan, putus asa, menyakitkan. Ternyata rasa takut itu masih ada, bahkan setelah setahun lebih berlalu.
Rasa sedih, air mata mengalir saat mengingatnya.
Siapa lagi yang bisa ku salahkan?
Tuhan kenapa kau tega mengambil manusia yang memiliki banyak impian dalam hidupnya.
Terlalu banyak impiannya yang ikut terkubur bersama raganya.
Sakit rasanya saat mengingat semua itu. Bercampur dengan rasa kasihan yang sangat besar, saya sangat merasa kasihan padanya bercampur dengan rasa bersalah selama sisa hidupnya dia memberi kami sekeluarga makan dan apapun yang kami inginkan.
Bahkan biaya pemakamannya dia biayai sendiri meski dia sudah tak ada di dunia ini. Dia masih memberi banyak berkah untuk keluarga kami.
Luaskanlah kuburannya tuhan, setiap makanan barang yang kami konsumsi dari hasil keringatnya jadikanlah pahala yang berlimpah untuknya di sana.
Berikanlah dia tempat terindah disisi mu, seperti saat di dunia ini dia selalu ingin hidup dengan berbagai keindahan.
Kenapa saya merasa yang terjadi ini untuk menghukum ku karena membiarkan dia berjuang sendirian menafkahi keluarga?
Saya merasa sangat berdosa padanya, tidak mendengarkan rasa lelahnya. Rasa bersalah padanya sangat menyakitkan, bagaimana caranya meminta maaf saat dia sudah tak ada disini?
Cukupkah dengan mengirimkan doa untuknya setiap saat untuk menebus kesalahan besar ini padanya?
Apakah dia memang sudah senang disana, seperti yang orang-orang selalu bilang? Katanya dia sudah tidak merasakan sakit lagi disana, apakah memang sepertu itu?
Saya sangat berharapa dia merasakan kebahagiaan yang jauh lebih banyak di sana tanpa rasa sakit, tanpa beban apapun, beritahu padanya kami akan hidup dengan baik di dunia ini dan berusaha untuk tidak menyusahkan orang lain seperti yang selama ini selalu dia katakan.
Teringat orang-orang di sekeliling ku beberapa hari sebelum dia menghembuskan nafas tetakhir.
Kenapa hati ini sangat marah pada mereka?
Ada perawat-perawat yang dimataku mereka tak melakukan apa-apa, seolah mereka seharusnya bisa melakukan sesuatu agar dia bisa tetap menghembuskan nafas.
Ada seorang kenalan yang menyuruh perawat memasang selang makanan lewat hidungnya agar dia bisa makan, pikiran ku berkata seandainya selang itu tak dipasang apakah dia bisa hidup lebih lama?
Ada seorang petugas lab yang bilang kenapa tak di masukkan di ruang icu, kenapa kau baru memberi tahu kami di saat-saat terakhir? Kami orang awam yang tidak memahami tindakan medis apapun.
Dokter perempuan pengganti dokter yang mengoperasinya menyuruh kami pulang dengan melepas selang itu? Kenapa dia tega melakukan itu?
Terus dokter yang terakhir merawatnya kenapa kupikir dia seharusnya bisa melakukan hal yang lebih baik dan mengedukasi kami.
Mereka semua tiba-tiba muncul dalam pikiran ku, setahun lalu semua pikiran ini ada tapi dengan segenap kekuatan ku kubur semua pikiran ini di dasar hati terdalam dengan kalimat menenangkan mereka melakukan yang terbaik.
Tak ku sangka ternyata menyimpan pikiran ini sendirian sangat menyakitkan, menyembunyikan pikiran ini sendirian ternyata menyesakkan dan saat pikiran ini kembali hati ini ketakutan bahkan dengan hal kecil.
Setelah setahun berlalu peristiwa yang sama seperti setahun lalu terulang.
Saya melihat dengan mata saya sendiri lagi seseorang menghembuskan nafas terakhir.
Banyak hal muncul kembali dalam pikiran.
Kenapa bisa?
Padahal malam sebelum operasi kami makan roti bersama, bahkan beberapa menit sebelum masuk ke ruang operasi masih ku lihat dia berjalan-jalan dengan kedua kakinya dengan sehat dan masih mengingatkan untuk di siapkan semua makanan pesanannya.
Bahkan setelah beberapa jam di dalam kamar operasi ku lihat dokter yang mengoperasinya keluar dan ku dengar mengatakan ingin makan siang dahulu.
Sungguh pemandangan yang sangat menenangkan.
Terus setelah itu, saya tak sanggup menuliskannya ingatan ku masih terasa kabur.
Yang kuingat saya sempat sendirian menunggu di kamar pemulihan beberapa jam sebelum operasi selesai.
Hingga agak sorean baru ada yang datang kami bersama menunggu di tempat lain bukan diruangan pemulihan karena mereka tak suka susana disana.
Hingga akhirnya dia keluar dari ruang operasi, semua terlihat normal layaknya orang-orang lain yang selesai dengan tindakan medis kami menunggunya bangun.
Kalau saya tak salah mengingat hingga satu jaman dia tak bangun-bangun baru dokter di ruang pemulihan memanggil-manggil namanya dan menepuk badannya untuk membangunkannya.
Disaat inilah salah dua pemandangan paling menyedihkan sepanjang hidup yang pernah kulihat rasanya sama seperti setahun lalu, proses seseorang menghembuskan nafas terkahir dihadapanku.
Dalam sudut pandang ku, kulihat pemandangan seseorang yang sangat berusaha keras untuk bertahan hidup meraung-raung mengatakan kesakitannya dengan sangat putus asa meminta untuk diobati karena dia ingin bertahan hidup.
Sangat menyedihkan dan menyakitkan.
Saat itu pikiran ku masih mencerna semuanya, setelah beberapa bulan berlalu ternyata itu pemandangan yang sangat menyakitkan dan memicu ingatan setahun lalu yang bahkan lebih menyesakkan lagi.
Katanya tuhan memberikan cobaan karena dia yakin orang itu sanggup menghadapinya.
Apakah semua hal yang kulihat ini karena tuhan menganggap ku sanggup melihatnya?
Tapi kenapa rasanya sakit saat mengingat itu semua?
Kenapa saya menempatkan diriku seolah berada dalam posisi mereka?
Seseorang yang memiliki banyak impian dalam hidup yang masih dalam proses ia wujudkan satu-satu.
Dan
Seseorang yang hanya ingin bertahan hidup.
Semuanya hilang dalam satu hembusan nafas terakhir.
Menyisakan trauma menyakitkan dalam kenangan.
Saya sungguh berharap mereka berada di tempat terbaik disisi tuhan.
Dan mereka mendapatkan kebahagiaan yang berlimpah di sana.
Serta saya berharap diberikan kekuatan yang sangat besar untuk bisa merelakan memori hembusan nafas terakhir mereka dan menjadikannya sebagai memori indah saat mengingat mereka.
Sabtu,
25 April 2026
13.54
Komentar
Posting Komentar